BERIMAN KEPADA MALAIKAT

2 Agu


Standar Kompetensi      :     8.      Meningkatkan keimanan kepada malaikat

Kompetensi Dasar         :     8.1.    Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Malaikat

8.2.    Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada malaikat

8.3.    Menampilkan perilaku sebagai cerminan beriman kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator                       :     o       Menjelaskan Pengertian Beriman Kepada Malaikat

  • Menjelaskan Tanda-Tanda Beriman Kepada Malaikat
  • Menjelaskan Contoh-Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat
  • Menampilkan Contoh-Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat
  • Menampilkan Perilaku Mulia Sebagai Cerminan Iman Kepada Malaikat
  • Membedakan Orang Yang Beriman Dan Tidak Beriman Kepada Malaikat

Oleh sebab keadaan malaikat sebagaimana yang sudah diuraikan di muka bahwa mereka berada di dalam alam ruh dan demikian pula tugas-tugas mereka yang dikerjakan secara otomatis sekali dalam alam semesta atau alam dunia ini, juga oleh sebab begitu itulah hubungan antara mereka dengan manusia di alam ini serta di alam yang akan datang nanti, maka sudah pantas kita beriman bahwa mereka benar-benar ada. Selain itu harus pula kita berupaya menghubungkan diri dengan mereka dengan jalan menyucikan jiwa membersihkan hati serta beribadah kepada Allah dengan ibadah yang sekhusyuk-khusyuknya. Dalam menghubungkan diri dengan malaikat akan diperoleh ketinggian jiwa sebagai suatu realisasi dari hikmah yang tertinggi yang untuk itulah manusia diciptakan. Ketinggian jiwa dapat berwujud melaksanakan amanat kehidupan dan mengemban kekhalifahan dari Allah Taala di atas permukaan bumi ini. Oleh sebab itu beriman kepada malaikat adalah termasuk kelakuan baik dan merupakan tanda-tanda kebenaran, kepercayaan serta ketakwaan.

Allah Taala berfirman, “Tetapi yang disebut kebaktian orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta malaikat.” (Q.S. Al-Baqarah:177)

SIAPAKAH MALAIKAT

Malaikat adalah suatu alam yang halus, termasuk hal-hal yang gaib, tidak dapat dicapai oleh pancaindera. Jadi mereka tidak termasuk dalam golongan makhluk yang wujud jasmaniahnya dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan. Mereka hidup dalam suatu alam yang berbeda dengan kehidupan alam semesta yang kita saksikan ini, oleh sebab itu tidak dapat dicapai oleh pandangan kita. Yang mengetahui perihal dan hakikat mereka yang sebenarnya hanayalah Allah Taala sendiri. Malaikat disucikan dari dorongan syahwat hewani, terhindar dari keinginan-keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan salah. Mereka tidak seperti manusia yang suka makan, minum, tidur, berjenis lelaki atau wanita.

Jadi mereka memang mempunyai suatu alam yang tersendiri, berdiri dalam bidangnya sendiri, bebas menurut hal-ihwalnya sendiri, tidak dihinggapi oleh sifat yang biasa diterapkan terhadap manusia, misalnya hubungannya dengan kebendaan (materi keduniaan), juga mereka mempunyai kekuasaan dapat menjelma dalam rupa manusia atau lain bentuk yang dapat dicapai oleh rasa dan penglihatan. Hal ini jelas sebagaimana kedatangan Jibril a.s. ke tempat Sayidah Maryam saat ia menjelmakan

dirinya dalam bentuk manusia seperti yang disebut dalam Alquran, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam (yang tersebut) dalam Alquran, ketika ia berangkat meninggalkan keluarganya ke suatu tempat yang terletak di sebelah timur. Ia membuat tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kemudian Kami (Allah) mengutus Ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (sebagai seorang) manusia yang sebenarnya.” (Q.S. Maryam:16-17)

Ada kisah lain yang menyebutkan bahwa sekelompok malaikat datang di tempat Nabi Ibrahim a.s. dan mereka menjelma sebagai manusia. Kedatangannya membawa berita gembira. Oleh Nabi Ibrahim a.s. yang menyangka bahwa mereka adalah tamu-tamu manusia biasa, lalu diberi hidangan makanan. Peristiwa ini tercantum dalam Alquran, yaitu, “Niscaya telah datang utusan-utusan Kami (malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa berita kegembiraan. Mereka mengucapkan padanya, ‘Salam (damai)’ Ibrahim menjawab, ‘Selamat.’ Sejurus kemudian dihidangkanlah daging sapi yang dibakar. Setelah dilihat oleh Ibrahim bahwa tangan mereka tidak menjamah makanan itu, ia pun mulai curiga dan merasa takut. Mereka berkata, ‘Jangan engkau takut, sesungguhnya kami dikirim untuk kaum Luth.’ Dan istrinya berdiri dengan tersenyum, lalu kami sampaikan berita gembira berupa akan dilahirkannya Ishak dan di belakang Ishak nanti, lahir pula Yakub. Istrinya berkata, ‘Aduhai! Apakah aku akan melahirkan anak, sedang aku adalah wanita yang sudah tua sekali dan ini suamiku sudah tua pula? Bukankah ini suatu peristiwa yang ganjil sekali.’ Mereka mengatakan, ‘Apakah engkau heran terhadap keputusan Allah. Rahmat dan berkah Allah untukmu, hai penghuni rumah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Terpuji dan Termulia.” (Q.S. Hud:69-73)

DARI APA MALAIKAT DICIPTAKAN

Allah swt. menciptakan malaikat dari nur (cahaya), sebagaimana Dia menciptakan Nabi Adam a.s. dari tanah liat, juga sebagaimana menciptakan jin dari api. Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan padamu semua.” (H.R. Muslim)

Tempat kediaman malaikat ada di langit, tetapi mereka dapat pula turun dari langit dengan perintah Allah Taala.

Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bertanya kepada Jibril a.s., sabdanya, “Apakah yang menghalang-halangi Tuan jika berziarah kepada kami, lebih banyak lagi dari yang biasa Tuan lakukan?” Jibril a.s. menyampaikan ayat yang artinya, “Dan kami (Jibril) tidaklah turun melainkan dengan perintah Tuhanmu, bagi-Nyalah apa yang ada di hadapan kita, apa yang di belakang kita dan apa yang ada di antara keduanya itu. Tuhanmu bukanlah pelupa.” (Q.S. Maryam:64)

Allah Taala menciptakan malaikat lebih dahulu daripada manusia. Sebelum itu Allah Taala memang telah memberitahukan kepada seluruh malaikat bahwa manusia hendak diciptakan untuk dijadikan sebagai khalifah (pengganti) di atas permukaan bumi, sebagai mana firman-Nya, “Dan di kala Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak membuat khalifah di bumi.’ Malaikat lalu berkata, ‘Apakah Engkau akan membuat di bumi orang yang hendak membuat kerusakan serta menumpahkan darah (bunuh-membunuh), sedang kita memahasucikan dengan memuji syukur pada-Mu serta mensucikan-Mu.’ Allah lalu berfirman, ‘Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu semua tidak mengetahuinya.’” (Q.S. Al-Baqarah:30)

MANUSIA LEBIH UTAMA DARI MALAIKAT

Yang terang dan jelas ialah bahwa manusia lebih utama dan lebih mulia daripada malaikat, sebagaimana yang nyata tentang kelemahan malaikat menjawab berbagai pertanyaan yang dikemukakan oleh Allah swt. kepada mereka mengenai nama-nama benda yang tertentu, sedangkan Adam a.s. dapat memberikan jawabannya dengan tepat dan benar. Jadi Allah Taala telah memuliakan manusia dengan mengaruniakan ilmu pengetahuan yang tidak diberikan kepada malaikat, juga manusia diberi keistimewaan untuk mengenal dan mengetahui bermacam-macam benda dan barang. Selain itu Allah Taala pernah memerintahkan kepada malaikat untuk memberi penghormatan kepada Adam a.s. Hal ini rasanya cukup sebagai bukti bahwa Allah Taala sengaja menunjukkan bahwa memang manusia yang lebih utama dan lebih mulia daripada malaikat sendiri.

Allah swt. berfirman, “Dan Allah mengajarkan kepada Adam akan beberapa nama, kemudian Allah memperlihatkan semuanya (benda-bendanya) kepada malaikat, kemudian Dia berfirman, ‘Beritahukanlah pada-Ku nama-nama semuanya ini, jika kamu semua benar!’ Malaikat berkata, ‘Maha Suci Engkau, kita tidak mengetahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kita, sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui lagi Bijaksana.’ Allah berfirman, ‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama semuanya itu.’ Setelah Adam memberitahukan semua nama-namanya, Allah lalu berfirman, ‘Bukankah sudah Kukatakan padamu semua bahwa sesungguhnya Aku mengetahui kegaiban-kegaiban di langit dan bumi, juga Aku mengetahui apa yang kamu semua tampakkan dan yang kamu semua sembunyikan.’ Maka di kala itu Kami berfirman kepada malaikat, ‘Berilah penghormatan kepada Adam.’ Kemudian mereka pun menghormat padanya selain iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri dan ia termasuk dalam golongan orang-orang yang kafir (tidak beriman).” (Q.S. Al-Baqarah:31-34)

Dari sudut lain, kita dapat mengetahui bahwa ketaatan yang diberikan oleh malaikat adalah suatu hal yang terjadi secara otomatis (dengan sendirinya), juga mereka meninggalkan kemaksiatan pun tidak perlu dengan menekan jiwa atau diusahakan dengan sesungguh-sungguhnya. Jadi tanpa dipaksa pun sudah dapat menghindarkan diri dari kemaksiatan, karena memang tidak ada syahwat mereka. Oleh sebab itu, mana pun yang dapat dinamakan keutamaan bagi golongan malaikat dalam hal ketaatan dan kebaktian, juga dalam meninggalkan kemaksiatan, sedangkan kedua hal tersebut mereka laksanakan sebagai suatu hal yang sudah semestinya berjalan demikian. Jadi tidak ubahnya dengan berkembang-kempisnya jantung mengalirkan darah dan gerakan kedua paru-paru ketika bernafas. Sedangkan manusia tidak seenak itu dalam beribadah, berbakti serta meninggalkan kemaksiatan dan berbuat dosa. Ia harus berjuang dengan segenap tenaga dan jiwa melawan kehendak hawa nafsu, memerangi ajakan setan, memaksakan diri untuk melakukan ketaatan dan bekerja keras guna menyempurnakan kesucian jiwa meluhurkan ruh dan membersihkan hati, baik ia melakukannya dengan senang hati atau hanya terdorong oleh rasa takut kepada siksaan. Di sinilah letak perbedaan yang jelas, bahwa manusia memang lebih mulia daripada malaikat.

TABIAT MALAIKAT

Tabiat malaikat ialah secara sempurna berbakti kepada Allah, tunduk dan patuh pada kekuasaan dan keagungan-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan mereka pun ikut mengatur alam semesta menurut kehendak dan iradah Allah Taala. Jadi Allah Taala dalam mengatur dan menertibkan segenap isi kerajaan-Nya ini menggunakan tenaga malaikat dan malaikat tidakuasa melakukan sesuatu yang timbul dari kemauannya sendiri. Dalam Alquran disebutkan, “Malaikat itu takut kepada Tuhannya yang berkuasa di atas mereka dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan.” (Q.S. An-Nahl:50)

Ada pula ayat lain yang berbunyi, “Bahkan malaikat adalah para hamba Allah yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului Allah dengan perkataan dan mereka mengerjakan sesuai dengan perintah-Nya. Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka juga tidak dapat memberikan pertolongan, melainkan kepada orang yang disukai oleh Allah dan mereka pun selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Q.S. Al-Anbiya:26-28)

Ada lagi firman Allah, yaitu, “Malaikat tidak bermaksiat kepada Allah mengenai apa-apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan tentu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim:6)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila Allah menentukan suatu keputusan di langit, maka semua malaikat memukulkan sayap-sayapnya karena tunduk pada firman-Nya seolah-olah sebagai suatu bunyi-bunyian yang nyaring di atas sebuah batu yang licin. Selanjutnya apa bila telah lenyap ketakutan itu dari hati mereka, mereka pun berkata, ‘Apakah yang diucapkan oleh Tuhanmu?’ Jawabnya, ‘Kebenaran dan Dia adalah Maha Luhur lagi Maha Besar.’”

PERBEDAAN MALAIKAT

Malaikat dalam penciptaannya ada perbedaannya, sebagaimana juga perbedaan mereka dalam hal kedudukan, pangkat dan sebagainya, itu semua hanya dimaklumi oleh Allah swt. sendiri. Allah Taala berfirman, “Segenap puji bagi Allah, Maha Pencipta langit dan bumi, yang membuat malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap-sayap, ada yang dua, tiga atau empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Fathir:1)

Maksudnya bahwa Allah Taala menciptakan malaikat berupa makhluk yang bersayap dan di antaranya ada yang bersayap dua buah, tiga buah, empat buah dan ada pula yang lebih dari itu. Semua ini menunjukkan nilai dan perbedaan pangkat di sisi Allah Taala, juga tentang kekuasaannya cepat atau lambatnya dalam berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Masud r.a., demikian, “Rasulullah saw. melihat Jibril a.s. dan ia mempunyai enam ratus buah sayap.” Banyaknya sayap adalah sebagai tanda lebih cepat menunaikan perintah-perintah Allah Taala serta menyampaikan risalah-Nya. Dalam Alquran disebutkan, “Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. Sesungguhnya kami bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah) dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (mensucikan Tuhan).” (Q.S. Ash-Shaffat:164-166)

Inti dari ayat-ayat di atas menunjukkan pengakuan seluruh malaikat yang mengatakan kami semua bershaf-shaf dengan rapi dan teratur kemudian bersama-sama memahasucikan Tuhan dengan mengucapkan tasbih serta mengagungkan-Nya dari segala sifat kekurangan dan kami semua adalah hamba-hamba-Nya, membutuhkan kepada-Nya dan tunduk serta patuh pula pada perintah-Nya.

Perlu dimaklumi bahwa perihal sayap malaikat, termasuk soal gaib yang kita diwajibkan untuk mempercayainya, tetapi tanpa membahas bagaimana keadaan, sifat, bentuk, warna dan lain-lainnya sebab memang kita tidak diperintah untuk mengetahui hal-hal seperti itu, sedangkan Rasulullah saw. sendiri pun tidak memberitahukan sedikit pun mengenai hal ini.

Perihal tempat malaikat, Ibnu Katsir berkata, “Tidak satu malaikat pun melainkan ia pasti mempunyai sebuah tempat yang khusus di langit, juga kediaman tertentu untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan. Tempat kediaman ini tidak akan dilaluinya atau dilewati dari batas yang dikhususkan tadi.”

Ibnu Asakir berkata dalam biografinya dengan sanad dari Muhammad bin Khalid dari Abdurrahman bin Ala bin Sa’din dari ayahnya yang termasuk salah seorang yang mengucapkan baiat pada hari pembebasan kota Mekah, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda pada suatu hari kepada sahabat-sahabatnya, “Langit bergerak dan sudah dipastikan ia akan bergerak. Tidak ada setapak kaki pun melainkan di atasnya ada malaikat yang rukuk atau sujud.” Beliau lalu membaca ayat di atas yang artinya, “Tiada seorang pun dari kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. Sesungguhnya kami bershaf-shaf dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih.” (Q.S. Ash-Shaffat:164-166)

TUGAS MALAIKAT

Malaikat mempunyai pekerjaan tersendiri dalam alam Ruh di samping pekerjaan mereka dalam alam dunia semesta ini. Mereka pun mempunyai hubungan yang khusus dengan bangsa manusia.

TUGAS MALAIKAT DALAM ALAM RUH

Tugas malaikat yang ada di dalam alam Ruh dapat disimpulkan sebagai berikut:

Bertasbih (memahasucikan serta patuh dan tunduk sepenuhnya kepada

MEMBERI SALAM KEPADA AHLI SURGA

sebagaimana firman-Nya, “Dan para malaikat masuk menemui mereka (ahli surga) dari segala pintu. Mereka mengucapkan, ‘Salam (damai) atas tuan-tuan sekalian, karena tuan-tuan telah berteguh hati.’” (Q.S. Ar-Ra’d:23-24)

MALAIKAT PEMBAWA WAHYU

Adapun malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu ialah Jibril a.s. sebagaimana Allah Taala berfirman dalam Alquran, “Katakanlah! Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya Jibril menurunkan wahyu ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan wahyu yang terdahulu daripadanya untuk menjadi petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah:97)

Jibril a.s. juga diberi nama Ruhul Amin (yang terpercaya) sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya wahyu, diturunkan dari Tuhan seru sekalian alam, yang membawanya turun ialah Ruhul Amin, pada kalbunya, supaya engkau dapat memberi peringatan (kepada manusia)” (Q.S. Asy-Syu’ara, 192-194)

Juga diberi nama Ruh Kudus (yang suci), sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah! Wahyu diturunkan oleh Ruh Kudus dari Tuhanmu dengan benar.” (Q.S. An-Nahl:102)

Ada pula nama lain untuk Jibril a.s. yaitu Namus sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah saw. pada pertama kalinya menerima wahyu, yaitu, “Tuan telah didatangi oleh Namus yang pernah diturunkan oleh Allah kepada Musa.” Perihal kedatangan Jibril a.s. sendiri adakalanya dengan menjelma dalam bentuk manusia, tetapi kadang-kadang juga sebagai bunyi nyaring dari sebuah lonceng (bel).

TUGAS MALAIKAT DI DUNIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN MANUSIA

Malaikat juga mempunyai pekerjaan dalam mengatur alam semesta ini, seperti mengirimkan angin dan udara, menggiring awan dan mega, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan lain-lain yang termasuk dalam golongan pekerjaan yang tidak dapat disaksikan oleh mata dan tidak mungkin pula dapat dicapai oleh pancaindra lainnya. Mereka senantiasa menyertai manusia sepanjang hidup dan bahkan setelah meninggalnya sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw., “Sesungguhnya ada makhluk yang menyertai kamu semua dan tidak memisahkan diri daripadamu melainkan di waktu kamu semua berada di tempat sunyi (buang air besar atau kecil), juga ketika bersetubuh, dari itu hendaklah kalian malu kepada mereka dan muliakanlah mereka.” Makhluk yang dimaksud ialah para malaikat.

Menguatkan rohani yang ada dalam diri manusia dengan mengilhamkan kebaikan dan kebenaran.

DOA MALAIKAT UNTUK ORANG MUKMIN

Allah swt. karena sangat pengampun dan juga karena sangat cinta kepada hamba-hamba-Nya mengilhamkan kepada para malaikat supaya mereka merendahkan diri kepada-Nya guna memanjatkan doa serta memohon dengan rahmat-Nya yang meluas pada seluruh apa-apa yang maujud, juga dengan pengetahuan-Nya yang merata atas segala sesuatu yang ada ini agar supaya Allah mengaruniakan pengampunan kepada orang-orang yang suka bertobat dan supaya dimasukkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.

MALAIKAT MENGAMINKAN BERSAMA ORANG YANG SALAT

Malaikat pun mengaminkan bersama orang-orang yang salat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika imam mengucapkan, ‘Ghairil maghdluubi ‘alaihim waladh dhaalliin,’ maka ucapkanlah, ‘Amin.’ Karena sesungguhnya malaikat pun mengucapkan, ‘Amin.’ Sesungguhnya imam pun mengucapkan, ‘Amin.’ Maka barangsiapa yang membaca amin bersamaan dengan bacaan amin malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Nasai. Maksudnya supaya bacaan amin makmum dibuat bersamaan benar dengan amin imam. Karena itu imam akan lebih baik mengeraskan suara amin.

KEHADIRAN MALAIKAT KETIKA SALAT SUBUH DAN ASAR

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Keutamaan salat jemaah (bersama-sama) melebihi salat sendirian dengan selisih dua puluh lima derajat. Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu salat fajar (subuh).” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah sekehendakmu ayat yang artinya, ‘Dan (dirikanlah salat) subuh, sesungguhnya salat subuh disaksikan (oleh malaikat).’” (Q.S. Al-Isra:78)

MALAIKAT TURUN DI WAKTU ADA BACAAN ALQURAN

Malaikat turun ketika ada bacaan Alquran untuk ikut mendengarnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (dengan lafal Muslim) demikian, “Diceritakan dari Abu Said Khudri r.a. bahwa Usaid bin Hudair pada suatu malam sedang membaca Alquran di suatu tempat dekat kandang kudanya, tiba-tiba kudanya melompat. Ia diam lalu membaca lagi dan kuda itu melompat pula. Sekali lagi ia diam, lalu membaca lagi dan sekali lagi kuda itu melompat. Usaid yang membaca Alquran itu berkata, “Oleh karena kuda itu melompat-lompat, maka saya takut kalau-kalau nanti menginjak kawanku yang bernama Yahya. Kemudian saya berdiri dan mendekati tempat kuda itu. Tiba-tiba ada suatu benda bagaikan naungan (awan) yang ada di atas kepalaku, di dalamnya tampak bagaikan beberapa pelita bercahaya yang terus naik ke atas hingga saya tidak dapat melihatnya lagi. Paginya saya mendatangi tempat Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah! Semalam saya membaca Alquran di suatu tempat dekat kandang kudaku, tiba-tiba kudaku melompat. Rasulullah saw. bersabda, “Baca terus, hai anak Hudair.” Usaid berkata, “Saya terus membaca, tetapi kudaku melompat lagi.” Rasulullah saw. bersabda, “Baca terus, hai anak Hudair.” Usaid berkata, “Saya terus membaca lagi, tetapi kudaku melompat pula.” Rasulullah saw. bersabda, “Baca terus, hai anak Hudair.” Usaid berkata, “Tidak, lalu saya bangkit, sebab Yahya tidur di dekat kuda itu dan saya takut kudaku itu menginjaknya. Selanjutnya saya melihat seolah-olah seperti naungan (awan) yang di dalamnya ada beberapa pelita bercahaya, naik ke atas hingga saya tidak dapat melihatnya lagi.” Rasulullah saw. lalu bersabda, “Itu adalah malaikat yang mendengarkan bacaanmu. Andaikata engkau membacanya terus sampai pagi, niscaya orang-orang dapat melihat sesuatu yang hingga kini masih terselubung bagi mereka itu.”

KEHADIRAN MALAIKAT DALAM MAJELIS ZIKIR

Malaselalu mencari majelis zikir untuk mengingat kepada Allah Taala, berupa pengajian agama dan sebagainya. Kepentingannya ialah untuk memberikan dorongan semangat kepada para hadirin dengan kekuatan rohaniah.

MEMBAWA BERITA GEMBIRA

Adakalanya malaikat juga membawakan berita gembira kepada orang tertentu, seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi saw., sabdanya, “Ada seorang lelaki berziarah kepada saudaranya yang berdiam di sebuah desa. Kemudian Allah menurunkan malaikat untuk menghadangnya di jalan. Setelah orang ia datang di tempat malaikat itu, malaikat itu pun bertanya, ‘Hendak ke mana engkau pergi?’ Orang tadi menjawab, ‘Saya hendak pergi ke tempat saudaraku yang berdiam di desa ini.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Apakah ada suatu nikmat dari saudaramu yang diberikan padamu yang kau anggap baik’ (maksudnya, Apakah engkau hendak membalas jasa yang sudah diberikan olehnya, sehingga engkau harus pergi ke tempatnya itu?) Orang itu menjawab, ‘Tidak, hanya saya mencintainya karena mengharapkan keridaan Allah swt.’ Malaikat itu lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk menemuimu guna menyampaikan bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu.’”

MENCATAT AMAL PERBUATAN

Di antara malaikat-malaikat ada yang bertugas mencatat amal perbuatan seluruh manusia. Mereka perhitungkan dalam catatannya secara teliti sekali, kebaikan-kebaikan atau kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang tersebut. Dalam hal ini Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat padanya dari urat lehernya sendiri. Ingatlah ketika disambut oleh dua malaikat penyambut. yang seorang duduk di kanan dan yang seorang lagi duduk di sebelah kiri. Tidak sebuah kata pun yang diucapkan oleh manusia itu, melainkan di dekatnya ada pengawas, yakni malaikat Raqib (pencatat kebaikan) serta Atid (pencatat kejahatan).” (Q.S. Qaf:16-18)

MEMANTAPKAN HATI KAUM MUKMININ

Sebagian malaikat ada yang bertugas meneguhkan kaum mukminin agar mantap apa yang ditanam dalam hati sanubari mereka sebagaimana firman Allah Taala, “Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku (Allah) bersama kamu semua, maka perkokohlah pendirian orang-orang yang beriman.’” (Q.S. Al-Anfal:12)

MALAIKAT PENCABUT NYAWA

Allah Taala berfirman, “Kemudian apabila seseorang dari kamu semua itu telah didatangi oleh kematian, maka ia pun diwafatkan oleh utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat). Mereka tidaklah melalaikan kewajibannya.” “(Q.S. Al-An’am:61)

Juga firman-Nya, “Katakanlah! Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu.” (Q.S. As-Sajdah:11)

Di samping itu para malaikat juga memberikan penghormatan yang baik sekali kepada orang-orang yang baik amal perbuatannya di waktu hendak mencabut nyawa mereka ini. Allah Taala berfirman, “Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik, malaikat itu mengucapkan, ‘Salam (damai) untukmu semua.’.” (Q.S. An-Nahl:32)

Mereka memberi kegembiraan dengan mengingatkan akan surga, sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kita adalah Allah’, kemudian mereka berpendirian teguh, maka para malaikat akan turun kepada mereka dan berkata, ‘Jangan kamu takut, jangan pula berdukacita, bergembiralah untuk memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu semua.’ Kamilah pelindung kamu semua dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di sana kamu semua akan memperoleh apa saja yang menjadi keinginan hatimu dan di sana kamu semua juga akan memperoleh apa saja yang kamu semua minta. Yaitu hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Q.S. Fushshilat:30-32)

  1. A. TANDA – TANDA BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Secara etimologi, kata malaikat berasal dari bahasa Arab, yaitu Malaikah yang merupakan jamak dari malakun, artinya risalah atau utusan.

Adapun menurut istilah, malaikat merupakan makhluk Allah yang diciptakan dari nur (cahaya) dan bersifat gaib, selalu taat dan patuh terhadap semua perintah Allah serta tidak pernah sekalipun melakukan kedurhakaan terhadap Allat SWT.

Beriman kepada malaikat merupakan rukun iman kedua yang hukumnya wajib. Hal ini sesuai dengan al-qur’an surah al-Baqarah (2) ayat 285, yaitu sebagai berikut :

Artinya :

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya.

Berdasarkan firman Allah tersebut, manusia harus beriman kepada malaikat, baik dalam hati maupun diwujudkan dalam perbuatan. Malaikat yang diciptakan Allah jumlahnya banyak dan memiliki tugas yang berbeda satu sama lain. Adapun malaikat ang dapat diketahui, yaitu sebagai berikut :

No

Malaikat

Tugasnya

1.

2.

3

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Jibril

Mikail

Israfil

Izrail

Munkar

Nakir

Rokib

Atid

Malik

Ridwan

Menyampaikan wahyu

Membagikan rizki

Meniup sangkakala

Mencabut nyawa

Menanyai manusia dialam barzah

Menanyai manusia dialam barzah

Mencatat amal kebaikan manusia

Mencatat amal keburukan manusia

Menjaga neraka

Menjaga surga

  1. B. PENGHAYATAN KEIMANAN KEPADA MALAIKAT

Malaikat merupakan hamba Allah SWT. Yang terbuat dari nur dan selalu mematuhi perintah Allah SWT, berbeda dengan syetan yang merupakan makhluk Allah yang selalu durhaka. Adapun jin dan manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki dua kemungkinan, yaitu taat dan durhaka. Adapun jin dan manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki dua kemungkinan, yaitu taat dan durhaka. Diantara semua makhluk Allah Swt.yang paling baik, paling sempurna kejadiannya, dan paling mulia adalah manusia, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah al-Isra ayat 70 yaitu sebagai berikut :

Artinya :

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu adam, dan Kami angkut mereka didarat dan dilaut, dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw Bersabda :

Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dana adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu.

Malaikat merupakan makhluk yang selalu taat terhadap perintah Allah. Malaikat diciptakan untuk berbakti kepada Allah. Mereka tidak mempunyai hawa nafsu untuk berbuat durhaka, dengan demikian sangat wajar mereka memiliki tugas khusus yang tidak sama dengan manusia.

Allah kepada nabi dan rasul, manusia pilihan Allah. Selain itu, ada juga malaikat yang bertugas menurunkan hujan, mencatat amal baik dan amal buruk dll.

Beriman kepada malaikat merupakan keharusan setelah beriman kepada Allah. Artinya termasuk kafir seseorang yang menyatakan beriman kepada Allah, tetapi tidak beriman kepada malaikat.

Beriman tidak hanya ditunjukan adanya keyakinan dalam hati, dan pengucapan dengan lisan, tetapi juga harus dibuktikan dengan penghayatan melalui perilaku sehari-hari.

  1. C. PERILAKU BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Bentuk prilaku yang mencerminkan keimanan kepada malaikat, adalah :

  1. Meningkatnya keimanan dan ketaqwaan

Seseorang yang memahami tugas-tugas para malaikat, akan semakin yakin betapa Mahabesar dan Mahakuasa Allah swt. Yang telah menciptakan semua makhluk-Nya, termasuk malaikat.

  1. Meningkatnya amal saleh

Seseorang yang memahami bahwa setiap amal manusia akan dicatat dan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatannya,  akan senantiasa meningkatkan amal salehnya.

  1. Selalu berhati-hati

Seseorang yang memahami bahwa para malaikat selalu memantau perbuatan manusia, akan selalu berhati-hati sehingga tidak terjebak dalam perbuatan dosa.

  1. Tidak sombong

Seseorang yang memahami bahwa setiap manusia akan mati dan masuk kealam barzah serta akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, tidak akan berbuat sombong.

  1. Tenang dan tentram jiwanya

Seseorang yang memahami bahwa setiap perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Akan menjadi tenang dan tentram jiwanya. Apapun yang terjadi ia akan mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa dalam kehidupannya.

Disusun Oleh :

MISNAH

MOCH. HASANUDIN

N. KASIRAH

MEMBIASAKAN PERILAKU TERPUJI

2 Agu


Smt.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Alokasi Waktu

1

  • Membiasakan Perilaku terpuji
  1. Menyebutkan pengertian perilaku husnuzhan
  2. Menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan manusia
  3. Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari
6  jam  pelajaran

( 3 pertemuan )

  1. A. MATERI POKOK 1
  2. 1. Pengertian Husnuzh-Zhan

Husnuzh-Zhan berasal dari kata husnu dan zhan. Husnu = asal katanya hasanun artinya baik dan zhan berarti prasangka atau praduga. Jadi menurut istilah Husnuzhan adalah kata hati yang menganggap bahwa orang lain atau pihak lain berperilaku baik atau anggapan seseorang yang menganggap bahwa perilaku perbuatan orang/pihak lain adalah baik atau merugikan dan tidak mencelakakan pihak lainnya.
Husnudan artinya adalah berbaik sangka, berperasangka baik atau dikenal juga dengan istilah positiv thinking. Lawan katanya adalah su’udzan yang memiliki pengertian buruk sangka, berperasangka buruk atau dikenal juga dengan istilah negativ thinking.
Perbuatan husnudzan merupakan akhlak terpuji, sebab mendatangkan manfaat. Sedangkan perbuatan su’udzan merupakan akhlak tercela sebab akan mendatangkan kerugian. Kedua sifat tersebut merupakan perbuatan yang lahir dari bisikan jiwa yang dapat diwujudkan lewat perbuatan maupun lisan.
2. Dasar Hukum Husnudzan
Berperasangka baik atau husnudzan hukumnya adalah mubah (boleh). Sedangkan berperasangka buruk atau su’udzan Allah dan rasul-Nya telah melarangnya, seperti dijelaskan dalam QS. Al-hujurat, 49 : 12 yang berbunyi :
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain”. (QS. Al-Hujurat, 49 : 12)
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :“Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena berperasangka buruk itu sedusta-dusta pembicaraan (yakni jauhkan dirimu dari menuduh seseorang berdasarkan sangkaan saja)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Hikmah Berbuat Husnudzan
a. Senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT
b. Bersikap Khaof (takut) dan Raja’ (berharap) kepada Allah
c. Optimis dan tidak berkeluh kesah serta berputus asa
d. Akal fikiran menjadi jernih dan terjauhkan dari akal fikiran kotor
e. Dicintai dan disayangi Allah SWT, Rasul dan orang lain
f. Terjauh dari permusuhan dan lebih dapat mempererat silaturahmi
g. Terjauhkan dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain
4. Perbuatan-Perbuatan Husnudzan
A. Husnudzan kepada Allah SWT

Huznuzhan kepada Allah SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah SWT, karena Allah SWT terhadap hambanya seperti yang hambanya sangkakan kepadanya, kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamban kepadanya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut. Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil“. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Perbuatan-perbuatan husnudzan kepada Allah SWT yang dilakukan oleh seseorang sebagai hamba-Nya adalah sebagai berikut :
1) Bersabar
Sabar dalam ajaran Islam memiliki pengertian yaitu tahan uji dalam menghadapi suka dan duka hidup, dengan perasaan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah. Sikap sabar diperintahkan Allah SWT dalam QS Al Baqarah ; 153 yang berbunyi :
Artinya: “Hai orang-orana yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.” (QS Al Baqarah ; 153)
Ujian dan cobaan pasti kan melintas dalam kehidupan setiap manusia. Ujian dan cobaan tersebut bentuknya beragam, hal itu bisa berupa kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya. Ketika semuanya melintas maka yang harus dilakuakan adalah apabila itu merupakan kebahagiaan maka sukurilah dan apabila hal tersebut merupakan kesedihan maka bersabarlah. Karena pada hakekatnya Apa yang dialami manusia itu semua datangnya dari Allah dan merupakan ujian hidup yang justru akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT berfirman :
Artinya:

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS Al Baqarah : 155-156)
Apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah, kita harus berbaik sangka dan kita harus tabah serta tawakal menghadapinya. Karena semakin sayang Allah kepada seorang hambanya maka Allah akan menguji orang tersebut dengan cobaan yang lebih besar, sehingga kadar keimanannya bertambah pula. Bila ia dapat bersabar menerima cobaan yang Allah berikan maka Allah akan memberikan ganjaran yang sangat mulia yaitu mendapatkan surganya Allah SWT seperti yang diuraikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari:
Artinya :

Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Oleh sebab itu, apabila seseorang gagal dalam suatu usaha, maka tidak sepantasnya menyalahkan Allah SWT atau su’udzan kepada Allah SWT dengan menggap Allah penyebab kagagalannya, Allah tidak mendengar doanya, Allah itu kikir, Allah tidak adil dan lain sebagainya. Sebaliknya dan sebaiknya adalah harus berinstrospeksi diri, barangkali kegagalan tersebut disebabkan usahanya belum sungguh-sunggu dilaksanakan secara maksimal. Kegagalan tersebut harus dijadikan pelajaran, agar pada masa yang akan datang tidak terulang lagi dan tetap selalu bersikap sabar terhadap segala ujian dan cobaan yang menimpa. Berikut beberapa cara agar kita bisa selalu bersikap sabar yaitu :
a. Senantiasa Berdzikir menyebut nama Allah SWT
Zikir bisa melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah. Tetapi, zikir juga bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memperhatikan kejadian di sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga. Orang yang sabar selalu mengingat Allah dan menyebut asama Allah apabila menghadapi kesulitan dan musibah, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bila seseorang berzikir dan membaca Al Qur’an hingga ia lupa untuk meminta sesuatu kepada Allah maka Allah akan memberikan nikmat kepadanya melebihi apa yang sebelumnya ia inginkan.
Artinya :

“Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfinnan : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya“. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
Disebutkan pula dalam Firman Allah QS Ar Ra’du ayat 28 sebagai berikut:
Artinya :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’du : 2)
Dalam ayat lain Allah menybutkan:
Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab : 41)
b. Mengendalikan Emosi
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih mengendalikan nafsu atau emosi agar bisa bersikap sabar yaitu :

  1. Melatih serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Seseorang tidak akan terus melampiaskan berang atau kemarahannya apabila ayat suci Al Qur’an dibaca. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh apabila ayat suci Al Qur’an bisa digunakan untuk melerai orang yang bertikai. Demikian pula Rasulullah SAW memberikan resep bagaimana caranya meredam amarah. “Berwudu’lah!” Demikian anjuran Rasulullah SAW.
  2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dilarang agama. Orang yang mampu menghindarkan diri dari kebiasaan yang dilarang agama, akan membuat hidupnya terbiasa dengan hal-hal yang baik dan tidak mudah melakukan perbuatan-perbuatan keji. Orang yang tidak sabar, pada umumnya adalah orang yang tidak perduli, bersikap kasar, berbuat keji misalnya berjudi, minum-minuman keras, berkelahi, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebarkan fitnah dan masih banyak lagi.
  3. Memilih lingkungan pergaulan yang baik. Agar bisa menjadi manusia yang memiliki sifat sabar, maka bisa diperoleh dengan memasuki lingkungan pergaulan yang baik, yang cinta akan kebenaran, kebaikan, dan keadilan.

2) Bersyukur
a) Pengertaian Syukur
Syukur menurut pengertian bahasa yaitu berasal dari bahasa Arab, yang berarti terimakasih. Syukur secara istilah yaitu berterimakasih kepada Allah SWT dan pengakuan secara tulus hati atas nikmat dan karunua-Nya, malalui ucapan, sikap dan perbuatan.
b) Cara-cara bersyukur
Dengan hati.Ø
Yaitu dengan cara menyadari dan mengakui dengan tulus hati bahwa segala nikmat dan karunia adalah merupakan pemberian dari Allah SWT dan tak ada selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat dan karunia tersebut.
Dengan lisan.Ø
Yaitu dengan cara mengucapkan Alhamdulillah, mengucapkan lafal-lafal dzikir lainnya, membaca al-quran, membaca buku ilmu pengetahuan dan amal ma’ruf nahi munkar dan senantiasa nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Dengan perbuatan.Ø
Yaitu dengan cara melaksanakan segala ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada kita dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah. Syukur dengan perbuatan seperti sholat, belajar, membantu orang tua, berbuat baik terhadap sesama manusia dan makhluk-makhluk Allah, dan menghormati guru.
Dengan harta benda.Ø
Yaitu dengan cara menafkahkan dan membelanjakan harta benda yang telah Allah rizkikan kepada kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
c) Hal-hal yang harus disyukuri
Nikmat jasmaniØ
Kita harus mensyukuri karena Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling sempurna, anatomi tubuh yang sempurna seperti bentuk hidung yang memiliki libang di bawah, telinga yang elastis, bulu alis yang diletakkan di atas mata, tangan yang memiliki jari-jari, kuku yang bisa mamanjang dan tidak terasa sakit ketika dipotong, panca indra yang menjadikan segalanya menjadi terasa.
Nikmat rohaniØ
Karunia dan anugrah Allah SWT atas nikmat rohani yang patut disukuri adalah Allah telah mehirkan kita, diberikannya jasad kita ruh, kalbu/hati, nafsu dan akal sehingga kita bisa hidup, berfikir, merasakan senang, bahagia, sedih, marah dan perasaan perasaan yang melengkapi segala kehidupan kita.
Nikmat dunia dan seisinyaØ
Apabila kita harus menghitung satu persatu nikmat Allah niscaya tidakalah akan terhitung jumlanya. (QS. Al-Baqarah, 2 : 152 dan QS. Ibrahim, 14 : 34). Nikmat Allah tersebar di darat, laut, udara. Segala yang Allah ciptakan, air, bebatuan, hamparan tanah, gunung, hutan, api, salju, hembusan angin, sinar matahari, hujan, tumbuh-tumbuhan, hewan, dingin, panas dan seluruh isi semesta merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri.

B. Husnudzan kepada diri kita senidiri
1. Percaya diri
Segala kemampuan yang kita miliki merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri. Oleh karena itu, kemampuan yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Kemampuan yang kita miliki akan menjadi tidak berarti apabila kita tidak percaya diri terhadap kemampuan yang kita miliki.
Seseorang yang percaya diri tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga di berani untuk menggunakan dan memanfaatkan kemampuannya dan mendapatkan hasil atas kemampuan yang ia usahakannya.
2. Gigih
Pengertian gigih secara bahasa yaitu bersikap kerja keras. Gigis secara istilah berarti mempunyai semangat hidup, tidak mengenal lelah, dan tidak menyerah. Gigih juga bisa diartikan kemauan kuat seseorang dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita.
Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan gigih, dan penuh kesungguhan hati. Setiap muslim wajib memilki sifat dan sikap gigih. Gigih dalam beribadah, gigih alam belajar untuk mencapai cita-cita dan gigih dalam mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup. Allah SWT berfirman dalam QS Alam Nasrah : 7 yang berbunyi:
Artinya:

“ Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS Alam Nasrah : 7)
Ayat Al-Quran yang menyatakan tentang anjuran bersifat gigih juga dijelaskan dalam QS. Al-Jumu’ah : 10. Dan diperintahkan pula dalam sabda Rasulullah SAW:

اَلْمُؤْمِنُُ الْقَوِيُ خَيْرٌ وَ اَحَبُّ اِلى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَ فِى كُلِّ خَيْرٌ اِخْرِصْ عَلى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَ لاَ تَعْجِرْ…..رواه مسلم
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih bagus dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kamu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa tak berdaya …” (HR Muslim)
Selain sabda nabi yang tersebut di atas, dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Sakir dinyatakan pula bahwa :
Artinya :

“Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akheratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” (HR. Ibnu Sakir)
Orang yang gigih tidak akan berpangku tangan dan tidak suka bermalas-malasan sehingga ia akan merasa keberkahan hidup. Apabila setiap orang Islam memiliki sifat gigih, niscaya hidayah dan karunia Allah akan menaungi kita. Gigihlah dalam berusaha, Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kita, sehingga tidak akan ada usaha kita yang sia-sia dan selalu ada perubahan pada diri kita ke arah yang lebih baik sebagai mana sabda nabi Muhammad SAW :

Artinya :

“Barang siapa yang keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia adalah orang yang beruntung. Barang siapa yang keadaan hari ini seperti kemarin dia adalah orang yang rugi, dan barang siapa yang yang keadaan hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia terkutuk.” (HR. Hakim)
Beberapa sikap yang dimiliki seseorang yang gigih antara lain adalah :
a. Gigih dalam berusaha dan menjalaninya dengan sabar dan ihlas
b. Memiliki program perencanaan yang baik dan membagi waktu yang tepat
c. Memiliki rasa tanggung jawab, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa
d. Selalu memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT
e. Selalu ada keinginan ke arah perubahan yang lebih baik,
3. Berinisiatif
Inisiatif secara bahasa berasal dari bahasa Belanda yang berarti prakarsa, perintis jalan sebagai pelopor atau langkah pertama atau teladan. Inisiatif bisa difahami sebagai sikap yang senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi. Seseorang yang memiliki inisiatif disebut inisiator. Sabda Rasulullah SAW :
Artinya :

“ Barang siapa merintis jalan kebaikan (meletakkan dasar), maka ia memperoleh pahala secara langsung dari perbuatannya. Disamping juga dari pihak orang yang mengikiti jejaknya. Demikian pula barang siapa merintis jalan maksiat maka ia tertimpa siksa ganda (kejahatan dari diri sendiri dan orang yang menirunya).” (Al-Hadits)
Dalam Firman Allah SWT QS An Najm : 38-41 juga disebutkan :
Artinya :

“39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, 40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). 41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS An Najm : 38-41)
Kemudian dijelaskan pula dalam firman Allah SWT QS. Alam Nasrah ayat 1-8 berikut ini :
Artinya :

“1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, 2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, 3. yang memberatkan punggungmu? 4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. “ (QS Alam Nasrah : 1-8)
Renungkanlah ayat diatas. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang produktif. Artinya fokuskan pada satu pekerjaan, jika telah selesai kerjakan yang lain. Tentu tidak hanya kerja keras saja melainkan dengan ketekunan, ketelitian, penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, senantiasa mengefisienskan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan. Cara dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut diatas disebut produktivitas kerja. Senantiasa menghasilkan etos kerjanya untuk menghasilkan yang lebih baik.
Contoh perilaku yang mencerminkan perbuatan inisiatif

  1. Titeu Sunrani adalah siswa yang belajar disebuah sekolah SMA formal dan sekaligus juga belajar di pondok pesantren. Ia harus selalu bisa mengikuti mata pelajaran SMA dan pondok pesantren, sehingga dia harus bisa membagi dan memanfaatkan waktunya untuk belajar materi mata pelajaran SMA dan belajar materi mata pelajaran pondok pesantren. Kunci utama inisiatif Titeu Sunrani adalah pengaturan waktu. Ia bisa membagi waktu kapan harus belajar mata pelajaran SMA dan belajar mata pelajaran pondok pesantren. Akhirnya ia dapat lulus dengan baik dan mendapatkan apa yang dicita-citakannya.
  2. Contoh lain: Pak Dimas adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA. Walaupun beliau sibuk mengajar namun bisa membagi waktunya untuk kepentingan sekolahnya. Selain itu ia bertempat tinggal cukup jauh dari sekolah. Jarak tempuh dari rumah ke sekolah bisa mencapai satu jam setengan dan itu ia jalani setiap hari, akan tetapi dia selalu tepat waktu dan tidak pernah terlambat dan selalu menjadi orang yang pertama datang di sekolah. Hal itu karena ia bisa memperhitungkan waktu, mendata dan menentukan skala proiritas hal yang harus didahulukan kemudian dikerjakan dengan tekun, teliti, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ihlas. Sehingga seberat dan sebanyak apapun beban pekerjaan yang dialami Pak Dimas ia dapat menyelesaikannya dengan baik.

Kesimpulan dari contoh diatas adalah kerja keras itu bukan hanya gigih dan semangat tinggi. Berinisiatif adalah usaha yang menghasilkan dengan pengaturan waktu yang baik dan terencana.

4. Rela berkorban
a. Pengertian Rela Berkorban
Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemaun sendiri. Berkorban berarti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan masyarakat berati bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.
b. Bentuk Perilaku Rela Berkorban
1. Rela berkorban dalam lingkungan keluarga ;

  • Biaya untuk sekolah yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya
  • Keihlasan orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya

2. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah :

  • Pemberian dari siswa berupa sumbangan pohon, tanaman dan bunga untuk halaman sekolah
  • Para siswa dan guru mengumpulkan sumbangan pakaian layak pakai untuk meringankan beban warga yang tertimpa bencana.

3. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat :

  • Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki jembatan yang rusak karena longsor
  • Warga masyarakat yang mampu menjadi guru sukarelawan bagi anak-anak yang terlantar putus sekolah    dan tidak mampu

4. Rela berkorban dalan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara :

  • Para warga negara atau masyarakat membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan
  • Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi dengan memperoleh penggantian yang layak

c. Cara Menumbuhkan Sifat Rela Bekorban

  1. Selalu peduli dan memperhatikan kepentingan umum, bangsa dan negara selain dari kepentingan pribadi.
  2. Suka memberikan contoh dan pembinaan yang baik kepada sesama
  3. Gemar memberikan pertolongan kepada sesama
  4. Penyantun dan penyayang terhadap orang lain atau lingkungan.
  5. Menjauhi sifat angkuh, egois, hedonis dan matrialistis.

C.  Husnudzan kepada Manusia (orang lain)

  • Membiasakan Perilaku husnudzhan dalam kehidupan sehari-hari
  1. Perilaku Qana’ah

Salah satu sebab yang membuat hidup ini tidak tentram adalah terpedayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang terpedaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pemberi rezeki.

Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk berburu segala keinginannya, meski harus menggunakan segala cara: licik, bohong, mengurangi timbangan atau sukatan, dan sebagainya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian.

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar (39):49).

Ayat tersebut mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapi harta dan dunia yang diberikan kepadanya. Ia menyangka, ketentraman hidupnya ditentukan oleh banyak-tidaknya harta yang ia miliki, besar-kecilnya tempat tinggal, tinggi-rendahnya kedudukan dan pangkat yang disandangnya.

Ketentraman hidup sesungguhnya hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia, sekecil dan sebesar apa pun harta yang dimilikinya. Sikap demikian dikenal dengan sebutan qanaah, yang berarti merasakan kecukupan dan kepuasan atas harta dan dunia miliknya.

Orang yang qanaah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan garam akan terasa nikmat tiada terhingga, karena ia tidak pernah berpikir tentang daging yang tiada di hadapannya. Makan dengan sayur lodeh atau daging akan sangat disyukurinya. Ia pun akan berusaha untuk membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, karena ia ingat pada orang-orang yang hanya bisa makan dengan garam saja.

  1. Perilaku Tasamuh

Makna tasamuh adalah sabar menghadapi keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dan batil menurut pandangan, dan tidak boleh menyerang dan mencela dengan celaan yang membuat orang tersebut sakit dan tersiksa perasaannya. Asas ini terkandung dalam banyak ayat Al-Qur’an diantaranya, “Dan janganlah kalian mencela orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, yang menyebabkan mereka mencela Allah dengan permusuhan dengan tanpa ilmu. Demikianlah Kami menghiasi untuk setiap umat amalan mereka, lalu Dia mengabarkan kepada apa yang mereka lakukan”. (QS.Al-An’am:108)

REFERENSI :

  1. Dari Buku LKS Kelas X Semester I Yang Disusun Oleh : Drs. U.M. Yakub dan Drs. Jalaludin Juni 2004
  2. Dari Intenet

Disusun oleh :

Kelompok 4

1. Didin Safrudin

2. Dinta Dien Sanandi

3. Iin Rosani

PAI X: Demokrasi dalam Islam

2 Agu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Good governance adalah sebuah bentuk kesadaran akan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam serta dalam menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Misalnya, polisi menjamin keamanan warga. Begitu pula para birokrat menggunakan jabatannya untuk melayani masyarakat luas, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Selanjutnya good governance juga berarti implementasi kebijakan sosial-politik untuk kemaslahatan rakyat banyak, bukan hanya untuk kemakmuran orang-per-orang atau kelompok tertentu. Tetapi, persyaratan terpenting bagi good governance, adalah demokrasi. Karena, hanya kelembagaan demokrasi yang mempunyai dua persyaratan mutlak bagi terwujudnya good govemance, yaitu kewajiban akuntabilitas dan kesediaan untuk bereaksi (positif terhadap aspirasi dan kebutuhan dasar para pemilih.
Seiring dengan perkembangan zaman, demokrasi telah mengalami pergeseran. Dulu pada saat penduduk suatu Negara belum banyak, setiap keputusan Negara dilakukan dengan demokrasi langsung, yaitu musyawarah disuatu tempat yang bisa menampung seluruh rakyat dan disitu masyarakat bebas mengeluarkan aspirasinya dan ikut secara langsung dalam penentuan kebijakan Negara. Namun sekarang demokrasi lebih bersifat tidak langsung atau dengan menggunakan keterwakilan. Itu dikarenakan banyaknya masyarakat suatu Negara dan semakin kompleknya kehidupan sehingga tidak mungkin demokrasi secara langsung dilaksanakan.
Dalam islam khususnya dalam Al-Qur’an demokrasi juga dibahas. Islam menitikberatkan pada upaya musyawarah dalam menentukan sesuatu masalah yang berhubungan dengan orang banyak atau suatu perkara. Itu sesuai dengan prinsip demokrasi yang menitikberatkan adanya upaya musyawarah untuk mencapai kesepakatan dalam menentukan suatu urusan. Sesuai dengan prinsip demokrasi, yaitu dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.

I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud
Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
I.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan ini adalah memaparkan tentang demokrasi dalam kaitannya dengan Al-Quran.

I.3 Identifikasi Masalah
1. Bagaimana pengertian demokrasi.
2. Bagaimana sejarah dan perkembangan demokrasi.
3. Bagaimana demokrasi di Indonesia.
4. Bagaimana demokrasi dalam Al-Qur’an.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Pilar utama demokrasi yaitu trias politika, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Jenis-jenis demokrasi, yaitu :
1 Demokrasi langsung.
2 Demokrasi tidak langsung.
3 Demokrasi terpimpin.
4 Demokrasi liberal.
5 Demokrasi terpimpin.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara.

3.2 Sejarah dan Perkembangan Demokrasi
Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica) dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.
Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat.
Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.

3.3 Demokrasi di Indonesia
Semenjak kemerdekaan 17 agustus 1945, Undang Undang Dasar 1945 memberikan penggambaran bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam mekanisme kepemimpinannya Presiden harus bertanggung jawab kepada MPR dimana MPR adalah sebuah badan yang dipilih dari Rakyat. Sehingga secara hirarki seharusnya rakyat adalah pemegang kepemimpinan negara melalui mekanisme perwakilan yang dipilih dalam pemilu. Indonesia sempat mengalami masa demokrasi singkat pada tahun 1956 ketika untuk pertama kalinya diselenggarakan pemilu bebas di indonesia, sampai kemudian Presiden Soekarno menyatakan demokrasi terpimpin sebagai pilihan sistem pemerintahan. Setelah mengalami masa Demokrasi Pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto, Indonesia kembali masuk kedalam alam demokrasi pada tahun 1998 ketika pemerintahan junta militer Soeharto tumbang. Pemilu demokratis kedua bagi Indonesia terselenggara pada tahun 1999 yang menempatkan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan sebagai pemenang Pemilu.

3.4 Demokrasi Dalam Al-Qur’an
a. Q.S Al-Imran 159

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Ayat ini adalah tuntutan Allah SWT kepada RasulNya yaitu Nabi Muhammad SAW tentang cara memimpin umat karena umatnya tidak sama kematangan dan keteguhan imannya. Pada pangkal ayat, Allah memberikan pujian kepada rasulNya karena sikapnya yang lemah lembutdan tidak lekas marah terhadap umatnya yang telah meninggalkan tugasnya karena tamak akan harta. Sikap yang lemah lembut itu karena Allah itu telah memberikan rahmatNya kedalam diri beliau. Dengan sanjungan Allah kepada rasulNya itu mengandung makna bahwa sikap yang lemah lembut itu sangat baik dan sangat disenangi Allah untuk dilanjutkan atau diwarisi oleh umatnya. Dengan demikian berartilah bahwa Allah telah memberikan ilmu memimpin.
Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa pemimpin yang bertindak kasar, keras maka orang-orang akan segan mendekatinya, satu persatu orang akan menjauhinya dan kalau mereka menjauhkan dirinya jangan sekali-kali disalahkan tetapi hendaknya menyelidiki apa kesalahan dirinya sendiri. Seorang pemimpin harus berani secara jujur menerima kelemahan dirinya. Disisi lain seorang pemimpin harus tegas dalam mempertahankan pendirian seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam perjanjian Hudaibiyah yang dipandang oleh beberapa orang sahabat ada kelemahan dari perjanjian itu, sehingga Ali Bin Abi Thalib sebagai penulis isi perjanjian ttersebut merasa ragu.Rasulullah dengan tegas dan keras memerintahkan Ali Bin Abi Thalib menulisnya dan dengan keras dan tegas pula beliau memerintahkan umatnya untuk menenggalkan pakaian ihram kerena salah satu isi dari perjanjian itu adalah membatalkan ibadah haji tahun ini.
Firman Allah selanjutnya ,

maka maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan bagi mereka. Mereka (pasukan muslim) ketika perang Uhud mereka telah bersalah kepada Nabi Muhammad sebagai pemimpinnya maka hendaklah nabi yang berjiwa besar itu memberikan maaf. Mereka yang melakukan pelanggaran itu telah berdosa kepada Allah SWT. Oleh sebab itu Engkaulah utusanKu yang seharusnya memohonkan ampunan Allah untuk mereka, niscaya Allah akan memberi ampun sebab dosa mereka ada sangkut paut dengan dirimu.
Apa kesalahan mereka itu? ceritanya adalah sebelum Rasullullah memanggil segenap pejuang muslim untuk berkumpul dan bermusyawarah. Ada berita yangsampai kepada Rasulullah bahwa orang-orang kafir mekah akan menyerang masyarakat muslim di madinah. Rasul mengadakan musyawarah dengan mereka untuk menghadapi serangan-serangan orang kafir mekah tersebut. Secara pribadi Rasul berpendapat musuh dinanti saja dengan mempertahankan kota, demikian pula Abdullah Bin Ubay berpendapat sama dengan beliau. Namun suara terbanyak , keluar dan bertempur di luar kota. Akhirnya suara terbanyak itulah yang ditetapkan. Selanjutnya beliau memakai pakaian perangnya. Setelah beliau siap dengan pakaiannya mereka meminjam kembali pendapatnya dan mengusulkan pada baginda Rasul untuk bertahan saja di kota sesuai dengan pendapat Rasul. Beliau marah dan keluarlah beliau yang terkenal : Pantang bagi seorang Nabi menenggalkan kembali pakaian perangnya apalagi telah lekat diberi ketentuan oleh Allah. Apabila musuh dapat dihancurkan atau beliau yang tenar.
Rasulullah disini menunjukan sikap patuh kepada hasil musyawarah sekalipun tidak sejalan dengan pemuda-pemuda dan prajurit tentang perang itu. Beliau yakin bahwa semangat pemuda-pemuda itu jauh lebih dapat dipercaya daripada semangat dari sahabat seperti Abdullah Bin Ubay yang sependapat dengan beliau.
Dalam perang ini muncul beberapa rintangan yaitu:
1. Pemuda-pemuda tadi banyak yang menyesal karena tidak menuruti pendapat rasul, sedang beliau telah memakai pakaian perangnya. Akhirnya Rasulullah menunjukan sikap marahnya karena sikap ragu-ragu para pemuda dalam menjunjung keputusan muyawarah itu,
2. Abdullah Bin Ubay dengan 300 orang pengikutnya mundur di tengah jalan. Namun beliau berjalan terus dengan 700 orang yang masih setia. Beliau percaya 700 orang itu orang-orang yang suka sehidup semati dengan beliau. Dan beliau berkeyakinan tebal bahwa perang ini akan menang.
3. Rintangan dan kekecauan rasul yang terakhir adalah diantara pemanah penjaga lereng Bukit Uhud itu melanggar disiplin dengan meninggalkan pos penjagaan mereka. Namun dengan gagah perkasabeliau bersama dengan tentara yang masih setia memperbaikikeadaan sehingga pasukan kafir Quraisy yang hampir bangga, mereka pulang dengan tidak puas hati karena tidak menang secara mutlak sekalipun pasukan muslim banyak yang gugur sebagai Syahid termasuk Hamzah (Paman Nabi) yang gagah perkasa.
Dengan rintangan dan hambatan dalam menghadapi musuh ketika perang uhud ini, rasul tidak merasa menyesal dan tidak bertindak keras dan kejam terhadap para penghianat dalam perang. Namun beliau tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka dan memaahkan kesalahan mereka serta memohonkan ampun bagi mereka kepada Allah SWT.

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Mengenai urusan hidup bagi manusia, Rasulullah telah menegaskan pembagiannya yaitu urusan agama yang meliputi urusan ibadah, syari’ah dan hukum dasar itu datang dari Allah. Dalam hal ini Nabi Muhammad memimpin dan wajib tunduk mengenai urusan dunia seperti perang dan damai, perekonomian, ternak, bertani, dan hubungan biasa antara manusia (human relation), sosial, politik, kenegaraan dan sebagainya hendaknya dimusyawarahkan yang berdasar kepada maslahat dan mafsadat (kebaikan untuk urusan umat dan kerusakan bagi umat).
Sesungguhnya sebelum datang perintah kepada Nabi supaya melakukan musyawarah ini sebenarnya Nabi pun telah berkali-kali mengadakan musyawarah sebagai kebijaksanaan sendiri dalam menghadapi soal bersama.

b. Q.S As – Syuraa 38

Artinya : “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”

Urusan-urusan hidup ada yang berkenaan dengan pribadi dan yang berkenaan dengan kepentingan orang banyak, maka Allah memerintahkan untuk musyawarah agar tidak merasa beban menghadapinya. Juga hubungan sosial akan menjadi lebih akrab menghadapi persoalannya, terjalin kerjasama sehingga ringan sama di jinjing berat sama dipikul baik yang berkenaan dengan tenaga, pikiran maupun materi.
Musyawarah secara langsung itulah yang dimaksud dengan demokrasi dalam Islam. Islam mengajarkan dalam berdemokrasi tidak hanya dalam urusan politik dan pemerintahan, tetapi demokrasi melalui musyawarah dalam berbagai segi kehidupan dan kepentingan orang banyak, termasuk urusan kenegaraan.

BAB IV
KESIMPULAN

Dalam konsep Islam, demokrasi yang sesuai yaitu demokrasi langsung, yaitu demokrasi dimana pihak-pihak yang berkepentingan terhadap suatu masalah melakukan musyawarah dan beraspirasi secara langsung dalam menentukan keputusan. Islam mengajarkan dalam berdemokrasi tidak hanya dalam urusan politik dan pemerintahan, tetapi demokrasi melalui musyawarah dalam berbagai segi kehidupan dan kepentingan orang banyak, termasuk urusan kenegaraan.

Disusun Oleh :

Mahyo              NIM 0708.1.1.023

Mimin               NIM 0708.1.1.024

Minah               NIM 0708.1.1.025

Hello world!

4 Jun

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.